Tampilkan postingan dengan label Core Values. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Core Values. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juli 2017

Ketika Si Miskin Membiayai Orang Kaya

dikirim oleh Lesmono Widodo
# Oleh: Salim A. Fillah
HAKIKAT perniagaan di negeri ini sering saya gambarkan dalam cerita tentang seorang pengusaha kecil yang memiliki produk, katakanlah keripik ubi. Untuk dapat masuk ke sebuah supermarket besar, produk ini harus melewati sekian uji-saring ketat, dari kualitas hingga kemasan. Dan akhirnya iapun diterima, terpampang agak tersembunyi di salah satu sudut raknya.
Tapi sistem pembayaran keripik ubi itu adalah konsinyasi; tiga bulan dipajang baru dihitung berapa yang laku. Laporan bisa diambil sekaligus sisa barang. Lalu pembayaran tunai baru akan diterima secepat-cepatnya sebulan kemudian. Total perlu waktu empat bulan bagi pengusaha kecil untuk mendapatkan hasil usahanya, dengan catatan kalau laku.
Tapi kalau si pemilik usaha amat kecil pengolah ubi ini, pada saat menyetorkan dagangannya hendak beli beras atau gula di supermarket itu, bisakah ia minta dihitung nanti dari hasil dagangannya? Tidak! Dia harus membayar tunai. Saat itu juga.
Inilah tata ekonomi, di mana orang miskin membiayai orang kaya. Pemilik usaha kecil itulah yang menopang bisnis para pemodal besar supermarket.
Maka kita selalu bahagia pergi ke pasar tradisional, karena kita akan menemukan nilai-nilai yang amat mahal. Saking mahalnya, 500 orang terkaya di dunia versi Forbes bersekutupun takkan sanggup membelinya.
Tempo hari, terlihat di Pasar Prawirotaman Yogyakarta, seorang ibu penjual bawang merah dan putih yang asyik mengupasi sebagian dagangan yang sudah keriput kulitnya. Tak banyak yang disandingnya, hanya setampah kecil sahaja.
Lalu seorang lelaki yang lebih muda, sambil tersenyum ke sana kemari menjajakan pisang satu lirang saja, yang dilihat keadaannya memang hanya akan bagus kalau dimakan hari ini segera. Besok tidak.
Dan tetap asyik dengan pisaunya, sang ibu mendongak, lalu berkata dengan tawa ringan yang memamerkan giginya, “Tolong pisangnya gantungkan di cantelan motorku itu ya Dik, ini uangnya ambil ke sini.”
“Ya Mbak, lima ribu saja buat Njenengan.”
Maka ketika Si Mas usai menaruh pisang itu, sang ibu menyumpalkan tiga uang lima ribuan ke tas plastik si Mas yang berisi jajanan ketika dia mendekat.
Semula lelaki itu tak menyadarinya, tapi setelah berjalan beberapa langkah dia kembali. “Weh, kebanyakan Mbak”, katanya.
“Tidak apa-apa, buat jajan anakmu lho Dik. Lagi pula pisang segini banyak ya ndak mungkin 5.000 to.”
Ndak. Memang segitu harganya Mbak. Jajannya juga sudah ada kok ini.” Lalu uang itu dikembalikannya.
Tak mau kalah, Si Ibu segera menyusul Si Mas yang berlari. Memasukkan lagi uang lebihan 10.000 itu ke tas plastiknya. Si Mas tersenyum geleng-geleng kepala. Lalu dengan penuh kesopanan, dia pamit pergi.
Siang hari ketika Si Ibu hendak pulang, seorang pedagang bakso menghampirinya. “Ini mbak, baksonya.”
“Lho saya tidak pesan itu?”
“Lha tadi Mase penjual pisang yang memesankan itu. Terus dia bilang diracik sama ngasih-kannya nanti saja kalau Njenengan mau pulang.”
“O Allah… Rejeki. Sembah nuwun Gustiiii…”
Adakah engkau temukan di tempat belanjamu orang saling berebut untuk membahagiakan sesamanya seperti ini?
Ah, mungkin sesekali kau perlu pergi ke pasar yang kau lihat becek dan sumpek itu. Sebab di sana ada yang tak dapat kau beli dengan harta, tapi dapat kau rasakan mengaliri hatimu dengan sejuta haru dan makna.
Mari beralih ke pasar tradisional, dan menjadi kaya bersama-sama, bukan memperkaya yang sudah super kaya. (*)

Minggu, 16 Juli 2017

Pantang Menang Dengan Memanfaatkan Kelemahan Lawan, Apalagi Curang

dikirim oleh Sjahrizal Siregar
di UMKM ITB Berkarya

Berikut ceritanya panjang,
the moral story bicara tentang respect, sportivitas, dan tanggung jawab moral. Kisah sejati yang dapat ditiru dalam kehidupan...👍

TABIAT KEMENANGAN,
THE 50 SECONDS MOMENT OF EXCELLENT ...

Hanya 50 detik ....
Pertempuran dari para master itu berlangsung. Namun dalam peristiwa yang hanya sekejap itu, bisa menohok jantung siapapun yang menyaksikannya. Hal itu terjadi dalam final Judo kelas berat, dalam momentum sebesar olimpiade musim panas 1984 di Los Angeles USA. Atlet mana yang tidak ingin jadi juara olimpiade. Medali tertinggi dalam cabang olahraga, yang dipersembahkan untuk negara tercinta.

Drama itu dimainkan oleh dua judoka terbaik dunia, Yamashita Yasuhiro dari Jepang dan Muhamed Ali Rashwan dari Mesir, yang berhadapan sebagai musuh diatas matras.
Yamashita harus berjuang ekstra keras sebelum masuk ke final. Dalam perempat final, saat berhadapan dengan Arthur Schnabel sang juara Jerman, Yamashita harus mengalami cedera berat. Sekalipun dia memenangi ronde itu, namun otot betis kanannya robek terkoyak.
Dengan cedera separah itu, siapapun bahkan rakyat Jepang pasti mampu memahaminya dan memaafkan, jika dia terpaksa mundur dari pertandingan. Namun itulah yang menjadi pembeda. Yamashita memutuskan untuk menahan rasa sakitnya, dan terus maju ke pertandingan berikutnya.

Babak semifinal melawan pejudo dunia tangguh lainnya, Laurent Del Combo. Berjalan memasuki arena dibantu sang pelatih, dengan kaki kanan yang terpaksa diseret. Lalu kedua jagoan tadi saling membungkuk menghormat, dan waist berteriak ... hajime !, mulai bertanding ...!!!

Yang dikhawatirkan banyak orang memang terjadi. Yamashita yang cenderung kidal, mengandalkan kaki kanannya sebagai tumpuan, saat melakukan bantingan atau lemparan. Terutama saat dia melakukan jurus andalannya, yaitu bantingan osotogari  yang mematikan itu. Laurent hanya butuh waktu 30 detik, untuk menghempaskan yamashita ke kanvas, dengan jurus osotogari yang sama.
Yamashita hanya meringis kesakitan saat kembali bangkit. Siksaan rasa sakit karena otot yang terkoyak di betis kanannya, plus siksaan karena dia kini tertinggal satu poin wazaari dari lawannya. Pilihannya dia mundur karena cedera semakin parah, atau dia menahan rasa sakit dan meneruskan pertandingan sampai akhir. Yamashita memilih opsi kedua.

Akhirnya dengan susah payah, yamashita berhasil memasukan jurus andalannya. Osotogari pada Laurent, sehingga skor menjadi satu satu. Pada momen teramat kritis itu, dengan sisa tenaga, Yamashita berhasil mengambil lawannya dengan  jurus Yoko-Shiho-Gatame, sehingga skor 2 – 1 untuk Yamashita.

Konskewensi dari kemenangan di babak semifinal, membuat robekan otot semakin membesar. Memaksa kaki kanan yang cedera parah sebagai pusat tumpuan bantingan, hanya membuat Yamashita nyaris sulit untuk berdiri, apalagi berjalan normal. Harga yang sangat mahal, demi mencapai tujuan memasuki babak final di arena olimpiade.

Di babak final menunggu raksasa dari mesir, Mohamed Ali Rashwan, yang dengan mulus mengalahkan pejudo-pejudo kelas dunia tangguh lainnya. Lawan yang sungguh tak mudah untuk dikalahkan.

Hanya dengan cara berjalan menyeret kaki kanannya, Yamashita mampu kembali berdiri tegak diatas arena. Dalam keadaan terluka parah, dia dihadapkan para peristiwa to be or not to be. Its now or never !. Lalu drama itu terjadi ...

Pertarungan keduanya diwarnai bukan dalam posisi berdiri, namun dengan cara newaza, alias bergumul diatas matras. Pada detik ke 50 itulah Yamashita mampu melakukan kuncian yang membuat Rashwan tak berkutik. Wasit menghentikan pertandingan, seraya memberikan kemenangan ippon, alias mutlak pada Yamashita.

Pertandingan dan kisah perjalanan karir seorang legenda judo terbesar dunia. Sebuah cerita dari militansi dan tak kenal mundur dan menyerah. Sebuah contoh, bagaimana jargon “tabah sampai akhir” di implementasikan dengan sempurna. Menjadi pembeda saat arus mainstream menyatakan, harus mundur karena cedera menganga. Namun Yamashita menolak, karena dibalik kesakitan itu terdapat tanggung jawab, yaitu wakil kebanggaan bangsanya, masyarakat Jepang.

Yasuhiro Yamashita yang melegenda. Sudah mencapai sabuk hitam sejak SMP, juara Jepang di usia 19 tahun, saat dia mulai kuliah di Universitas Tokai. Mundur sebagai atlet 9 tahun kemudian, di usianya yang ke 28. Selama itu dia menjadi juara jepang 9 tahun berturut-turut. Juara dunia 3 kali, dan yang terakhir menjadi juara olimpiade. Dalam kurun waktu itu dia melakukan 203 kali pertandingan, tanpa pernah kalah sekalipun. Sebuah rekor statistik yang belum ada duanya. Sehingga sungguh menjadi sosok yang patut ditiru, dan menjadi sangat wajar ketika kini dia diangkat menjadi direktur bidang pendidikan di Federasi Judo Dunia.

Nun jauh di Alexandria Mesir  ....
Muhamed Ali Rashwan, setiap kali melihat rekaman pertandingan final itu, matanya berkaca-kaca. Sebuah rasa haru yang sudah pada tempatnya, seperti ungkapannya ...  "Pada tahun 1984, saya terpilih untuk mewakili negara saya di Olimpiade di Los Angeles. Saya tahu bahwa dalam kategori saya, orang yang harus dikalahkan adalah Yasuhiro Yamashita dan saya sedang bermimpi bertemu dengannya di final Olimpiade. Setiap usaha untuk menurunkan dia. Dia adalah ikon sejati untuk semua judoka pada saat itu “.

Saat wartawan memburunya seusai drama difinal itu, dan bertanya apakah Rashwan tak tahu bahwa Yamashita sudah cedera parah pada kaki kanannya. Sehingga secara taktis Rashwan bisa memusatkan serangan pada kaki terlemah itu, dan memenangi perlombaan, seraya merenggut medali kebanggaan setiap atlet dan negara .... medali emas olimpiade.

Rashwan menjawab .... “ Sebenarnya, saya tidak menginginkan kemenangan seperti ini. Saya tidak ingin orang bisa mengatakan suatu hari bahwa saya menang karena Yamashita terluka. Aku tidak bisa menerimanya untuk diriku sendiri ”. ... Hal itu bukan sekedar ucapan, namun dalam perbuatan nyata.

Rashwan sebagai judoka kelas dunia tahu persis. Bila ingin menang, harus mengambil keuntungan dari kelemahan lawan. Teknik bertanding dengan cara tetap berdiri, lalu menghajar kaki yang yang cedera, adalah metoda yang paling masuk akal. Namun Rashwan tak sudi melakukan itu.

Rashwan bertanding dengan Yamashita, bukan sekedar dengan akalnya, dia menggunakan hati, perasaan dan nuraninya !. Jiwa sportifitasnya menolak untuk menyerang kaki yamashita, yang pasti akan memperburuk koyakan luka yang akan semakin parah. Rashwan lalu memilih bertanding dengan cara newaza , yaitu bergumul dibawah. Sebab dengan cara itu, maka kaki Yamashita akan berkurang bebannya. Sebaliknya cengkraman, pitingan dan kuncian tangan akan lebih dimaksimalkan. Pilihan yang “salah” dari Rashwan, karena Yamashita juga memang master dalam hal newaza.

Mata Rashwan yang berkaca-kaca itu, bukan karena penyesalan akibat pilihan “salah” nya di final. Sekalipun dia pulang dengan merelakan medali emas pada Yamashita. Namun Rashwan membawa pulang sebuah medali lainnya, yang dikeluarkan oleh Komite Fair Play Internasional. .... Medali emas Fair-Play atas jiwa sportifitasnya dalam babak final olimpiade... !!!. Medali puncak kebanggaan setiap atlet, yang tahu persis arti dari kejujuran dan keadilan dalam setiap pertandingan.

Rashwan, hanya seorang pria sederhana dikenal ramah tamah pada siapapun. Tetapi dimensi keteladanannya membuatnya menjadi figur yang sangat dihormati. Bahkan di jepang sendiri, saat dia secara reguler di undang selaku tamu kehormatan oleh Federasi Judo Jepang.
Katanya .... "Sport has too often become like a war," terusnya, "we must return to the core values of sport: an athlete must respect his/her opponent, the students must respect their masters, the referees must respect the competitors and vice versa."

Drama 50 detik dalam final olimpiade itu, ternyata hanya satu kata kunci saja , yaitu “RESPEK”.

Yamashita, respek pada beban tanggung jawab dari bangsanya, menghasilkan usaha perjuangan “Tabah sampai akhir” yang tak kenal menyerah.
Rashwan, respek pada tanggung jawab kemanusiaannya, melahirkan sikap “sportif” dan berlaku adil pada lawan sekalipun.

Sang Respek ...
Semakin menjadi barang langka di negeri ini
Para tokoh dan pemimpin yang kehilangan pemahaman tentang makna respek,
akhirnya hanya akan membumi hanguskan aspek KETELADANAN
Bagi generasi-generasi penerusnya ....