Tampilkan postingan dengan label Kaizen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kaizen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 Mei 2019

JIT pada industri elektronika (bag 2)

Kristianto Jahja
KAIZEN Institute

Perubahan yang berarti terjadi bukan karena kesadaran manajemen terhadap job content dan job depth, namun karena teknologi. Ada banyak peruGbahan terjadi dalam proses industri elektronik.
Banyak otomatisasi yang diterapkan di banyak pekerjaan yang tadinya dilakukan secara manual repetitif. Automatic Pick and place machine (sequencer, radial, axial) menggantikan banyak pekerjaan memasang komponen, sementara itu teknologi wave soldering menggantikan tangan-tangan halus para gadis petugas solder. Miniaturisasi dari komponen elektronik juga mengalihkan
banyak pekerjaan manual ke mesin-mesin otomatis. Sejarah industri elektronik di Indonesia mencatat kegagalan kita menyesuaikan diri, dengan ditutupnya pabrik Fairchild dan NS-electronic beberapa belas tahun yang lalu, berhubung kita tak rela melepaskan pekerjaan yang tidak manusiawi itu ke mesin. Sementara itu dalam industri elektronik sendiri sedang terjadi proses perubahan paradigma dalam mengelola proses dan metode kerja di dalamnya. Sekarang ini, ruangan untuk mesin-mesin mulai makin mendominasi pabrik elektronik, bukan sekadar gelaran meja panjang dengan ban berjalan dan ratusan pos kerja dengan gadis-gadis yang melakukan pekerjaan tangan. Jadi jelas bahwa pola pengelolaan kerja di pabrik elektronik perlu berubah.

Jenis pekerjaan yang mulai bergeser ini mengakibatkan tugas karyawan tidak lagi sempit seperti sebelumnya yang hanya memasang 3-5 komponen di circuit board. Jenis pekerjaan berubah menjadi
lebih luas dan bervariasi. Misalnya, perakitan manual tidak lagi berkaitan dengan circuit board, namun memasang board pada box/chasisnya, memasang berbagai komponen mekanik pada
produk, menyambung circuit board dengan komponen lain (biasanya juga dengan plug, bukan lagi solder), melakukan wire dressing, packing dsb. Hampir seluruh pekerjaan pada circuit board sudah
diambil alih oleh APP (automatic Pick and Place) dan sistem otomatisasi produksi lainnya. Pada saat inilah pengaruh konsep JIT mulai merambah industri elektronik.

Pabrik Toshiba bisa dibilang yang pertama mulai menerapkan berbagai teknik JIT ini. Di pabriknya di Duesselldorf Jerman pada sekitar awal dasawarsa 1990 lalu sudah dapat dilihat adanya sistem lampu yang diadopsi dari Toyota. Demikian juga pabrik Canon yang juga menyusun buku panduan disebuit CPS (Canon Production System). Semuanya merupakan adaptasi dari JIT.

Berbagai konsep dari JIT seperti lay-out dengan konfigurasi "U", sel manufaktur, dan ergonomi mulai mendapat tempat dalam industri elektronik. Itulah yang menuntut sikap kerja berdiri, juga pada industri elektronik. Tentang sikap kerja berdiri dalam JIT diulas secara panjang lebar pada buku-buku karangan Hiroyuki Hirano.

JIT pada industri elektronika (bag 1)

Kristianto Jahja
KAIZEN Institute

Kita terkejut mendengar berita ada keributan di SONY di Indonesia, sebuah perusahaan elektronik dengan dukungan manajemen Jepang. Apa yang terjadi ?
Buruh berdemonstrasi dan mogok karena diminta bekerja sambil berdiri. Cukup serius, sampai SONY sendiri mengancam untuk memindahkan pabriknya ke Vietnam atau China, entah bagaimana
kelanjutannya. Memang dulu pernah diramalkan oleh pelawak Bagyo alm. yang mengatakan: "kalau sudah duduk lupa berdiri!". Saya tidak bermaksud untuk menghakimi mana yang salah atau benar dalam kasus ini, namun mencoba memberikan pandangan yang melatar-belakangi terjadinya kasus ini.

Bayangan kita pada umumnya mengenai pabrik elektronik adalah angkatan kerja wanita dalam jumlah cukup banyak. Mereka bekerja memasang berbagai komponen seperti tahanan, kapasitor dan berbagai komponen aktif di atas circuit board dan menyoldernya satu demi satu, titik demi titik. Oleh karena bawaan pekerjaan tersebut yang membutuhkan ketelitian dan dexterity tinggi, yang umumnya dipenuhi oleh kaum hawa, maka logislah kalau kebanyakan karyawan adalah wanita, bahkan hampir seluruhnya wanita.

Bayangan lain dari pabrik elektronik adalah sebuah meja panjang yang menjadi jalur perakitan yang dilintasi oleh semua produk yang akan dihasilkan. Circuit board dipasangi komponen dan disolder satu demi satu secara serial oleh para pekerja wanita yang duduk di pos kerjanya masing-masing. Seorang pekerja akan mendapat bagian pekerjaan tertentu seperti memasang sekian buah komponen atau menyolder sekian titik solderan tertentu, kadang ada yang bertugas memeriksa dan emereparasi kesalahan pekerjaan dari pos-pos sebelumnya. Indah sekali, ini merupakan perwujudan dari dalil "division of work" dan juga jalur assembling yang dipelopori oleh produksi mobil Ford model T seabad yang lalu.

Pengaturan dari jalur assembling elektronik ini seringkali mengarah ke ekstrim yang tak terbayangkan sebelumnya. Kalau dalam assembling mobil siklus kerja sebuah pos masih cukup
luas, beberapa langkah dan waktu satu siklus kerja masih dihitung dalam bilangan menit. Maka di industri elektronik, langkah-langkah dalam siklus kerja diminimumkan sedemikian rupa guna memenuhi tuntutan output harian yang makin tinggi di jalur assembling. Bayangkan saja sebuah pos kerja yang hanya bertugas memasang 3-5 komponen pada circuit board dan waktu siklus kerja yang
sebutlah, 10 detik, terus berulang secara repetitif sepanjang hari. Nah ini juga cocok dengan teori division of work, atau juga anjuran Taylor tentang pelatihan bagi karyawan. Makin sedikit work
content dari setiap pos, makin cepat proses edukasi bagi karyawan, makin cepat pula karyawan baru dapat langsung dipekerjakan, istilahnya "learning curve" yang cepat matang.

Memang, kalau kita pikirkan sekarang, ini adalah metode kerja yang kurang manusiawi. Itu sebabnya, ada banyak pakar yang menelurkan teori job enlargement dan job enrichment dalam mempekerjakan karyawan. Namun, apa lacur, konsep jalur perakitan elektronik yang panjang dengan work content yang minimum sudah menjadi norma bagi industri elektronik di manapun juga, termasuk di indonesia.

(Dilanjutkan disini)